I wish I had that clever line, the one that begs you to keep reading my blog.

Posts Tagged: random

  • Pevita: Suka nasi kalong ngga Val?
  • Me: Nasi kucing kali?
  • Pevita: Bedaaaaa.. Nasi kalong tuh yang makannya ala pashmina gitu looh
  • Me: ........WHAT
  • Pevita: Eh apa namanya tuh makan ala apa
  • Me: HUAHAHAHAHAHAHAHAHA PRASMANAN HAHAHAHAHAHAHAHAHA
  • Pevita: OH IYA PRASMANAN HAHAHAHAHAHA

Text

Ternyata gue susah move on dari Super Show 2 Malaysia. Hingga saat ini, Super Show 2 Malaysia masih memegang titel “Konser K-Pop Paling Keren” or, to be more specific, “Konser Super Junior Paling Keren”. Apakah karena Super Show 2 Malaysia adalah konser K-Pop pertama yang gue tonton dan prinsip “first love never dies” berlaku disini? Mungkin. Well, gue punya analisis sendiri.

Poin pertama gue: Super Show 2 Malaysia adalah konser K-Pop pertama yang gue tonton dengan duit gue sendiri. Waktu itu tiket yang gue beli harganya 1,3 juta. Waktu itu umur gue baru 20 tahun. Gue sadar bahwa 1,3 juta itu duit, bukan kolor. Gue yang belum berpenghasilan tetap cuma bisa mengandalkan panggilan motret sana-sini di luar uang bulanan dari orang tua. Gue pun serabutan freelance selama kurang lebih 2 bulan untuk bisa kumpulin uang sehingga bisa beli tiket konser. Motret iya, jadi marketing iya. Wah, gila dah demi 1,3 juta. Tapi kekumpul dan gue pergi juga tuh naik haji ke Kuala Lumpur.

Poin kedua: Super Show 2 Malaysia menampilkan Super Junior.

Yes, I am being Captain Obvious here.

Logis yah, kalo yang tampil Skrillex, gue ngga bakal seseneng itu. Because I don’t even like dubsteb. Dubsteb was not even popular back then.

Well anyway…

Gue suka banget sama Super Junior. Tolong bayangkan diri lo di posisi gue. Gue suka Super Junior sejak umur 15 tahun tanpa ada teman untuk berbagi. Kenapa? Karena no one gave a fuck about K-Pop back then. Sebagaimana orang normal pada umumnya, tentu saja gue jijik ngeliat rambut Super Junior dalam TWINS dan Miracle. Tapi Siwon termaafkan. Ganteng banget nyet. Karena dialah gue terjerumus dalam lembah kenistaan yang membuat gue menghabiskan sekian juta perak setiap tahunnya ini. Dan gue suka lagu-lagunya. Enak.

Lalu gue jijik lagi begitu tau bahwa mereka menambahkan Kyuhyun ke dalam formasi. Selusin aja gue udah pusing, apalagi 13?

Gue menjalani masa SMA tanpa teman berbagi.

Sampai gue kuliah tahun kedua.

Dan Sorry Sorry dirilis.

Dan mereka ganteng banget pake suit.

Dan gue pun luluh kembali.

Menjadi 15 tahun kembali.

Dan ternyata yang namanya Kyuhyun itu ganteng dan suaranya bagus apalagi solonya yang Smile kalo didengerin malem-malem bikin… ah sudahlah

But you get the details, right?

Poin ketiga: Super Show 2 Malaysia was very very intimate. Intimate disini dalam artian hubungan emosional antara Super Junior dengan ELFs sangat terbangun sepanjang konser. Their interactiveness sudah tidak perlu diragukan ataupun ditanyakan lagi ya. Dan gue sangat sangat suka kalau performers on stage bisa interaktif dengan fans-nya. It felt like I was highly appreciated for flying across the country and spending some money worth buying a couple of Steve Madden shoes (or perhaps three shoes) just to see a dozen of hot Asian guys having fun, stripping themselves, running around, and fooling around a big stadium.

Poin keempat: Super Show 2 Malaysia menjadi ajang pembuktian bahwa Super Junior juga manusia. Mereka jerawatan. As simple as that. Bahkan Siwon yang terlihat begitu sempurna, aslinya jerawatan. Terutama di bagian leher.

Poin kelima: Our Love sama Shining Star bagus banget jing gue nangis. Yang ini ngga ada obat. Dan gue ngga bisa ngejelasinnya. Mesti liat sendiri.

Gue ngga akan pernah lupa. Malam Minggu di Bukit Jalil pada tanggal 20 Maret 2010. Di usia gue yang 20 tahun 2 bulan, gue bisa menyaksikan boyband yang gue suka sejak gue berusia 15 tahun. Gue masih ingat, dan tidak akan pernah lupa, senangnya gue. Teriakan-teriakan histeris gue. Loncat-loncatnya gue. Air mata. Keringat. Tawa. Semua emosi campur jadi satu… Alig. Alig.

Gue ngga bisa merasionalisasi apa yang terjadi malam itu. Sebuah konser berdurasi 3 jam bisa membuat gue begitu emosional. Alig.

But it was beautiful. It was a night to remember.

Sepertinya it was also a life-time experience. Karena apa yang gue rasakan malam itu tidak pernah gue rasakan lagi dalam Super Show selanjutnya. Gue senang bisa nonton Super Show setiap tahunnya. Tapi perasaan gue tidak sama seperti saat Super Show 2. Beda rasanya.

Setiap gue memutar lagu-lagu dari album Super Show 2, rasanya seperti semua memori dan semua perasaan itu merengkuh gue lagi. Bahkan membuat gue semangat ngerjain skripsi.

Ah, kenapa ujung-ujungnya skripsi sih. Asu.

Text

A couple of years ago, I was asked,

“Aren’t you aware that Moslems are not allowed to say ‘Hallelujah’?”

I did not remember why I was asked such question. But I remember my simple answer,

“It’s just a matter of language to me.”

  • Timur: Aku kepikiran Alcoholics Bar atau Bastille atau Super Steak buat anniversary dinner kita nanti. Kira-kira gimana?
  • Me: Aku ngga pernah denger Alcoholics Bar. Itu apa? Kalo Bastille itu restoran Perancis ya? Super Steak sih aku tau, itu di Jalan Dempo.
  • Timur: Alcoholics Bar itu restoran tapi makanannya dimasak pake alkohol semua. Iya, Bastille itu restoran Perancis di Cipete. Nah, kalo Super Steak kayaknya mantep tuh, masaknya katanya perfect.
  • Me: Ya udah jadiin pilihan aja tiga itu.
  • Timur: Iye, makanye gue nanya lo, botak. Hahaha
  • Me: .....

  • Gue: Mas, kata pacar gue, lo ganteng loh
  • Mas Ridwan: Makasih *dua detik kemudian* Eh pacar lu cowok ya. Yah, sayang amat cowok yang bilang
  • Gue: HAHAHAHAHAHAHA

Text

Hari ini gue melakukan rontgen tulang belakang di Biotest Wijaya ditemenin si pacar yang wanginya enak banget itu.

Dan disitulah permasalahannya.

Gue sangat suka wanginya Timur. His scent is like a mixture of wanginya anak bayi dengan wangi cowok dewasa. Syulit dijelaskan dengan kata-kata tentunya, karena ini masalah yg terkait indra penciuman. Pokoknya gue suka wanginya Timur dan hal ini mengakibatkan gue memiliki kecanduan terhadap bajunya. Bahkan gue sempet beberapa kali minjem bajunya Timur cuma biar ada wanginya Timur ada di rumah gue walaupun orangnya ngga ada.

Hari ini, Mas kesayangan gue itu memakai kemeja hitam garis-garis vertikal. Timur adalah tipe cowok yang selalu memakai kaos putih sebagai dalaman kemeja, sehingga tadi dia dengan bebas melepas kemejanya dan melempar kemejanya begitu saja di dalam mobil gue. Kami ngobrol lalalala lililili dan gue memposisikan kemejanya di dekat tas gue, berharap Timur lupa kemejanya jadi bisa gue bawa pulang.

Ketika Timur mau turun dekat kampus, dia ngga minta kemejanya. Gue semakin optimis dan yakin bahwa gue bisa membawa kemejanya pulang. Lumayan jadi obat tidur gue beberapa malam kan.

Sampai di halte dekat Gerbatama, Timur turun. Cipika cipiki dengan gue, lalu dia keluar dari mobil gue.

Gue langsung mengambil kemejanya dan menghirup wangi Timur yang tertinggal.

Sebelum mobil gue beranjak dari halte, tiba-tiba jendela gue diketok.

Oleh Timur.

Spontan, gue langsung ngumpetin kemeja itu. Takut diminta balik.

Gue buka jendela sambil pasang muka cool dan nanya, “Ada apa?”

“Kemeja gue.” kata Timur kalem.

Gue tidak menjawab.

“Ke.Me.Ja.” Timur mengulang permintaannya.

Tanpa berkata apa-apa, gue mengoper kemejanya lewat kemeja.

Dia nyengir.

“KENAPA KAMU INGET SIH! BETE.” akhirnya gue bereaksi.

Timur cuma ketawa dan berlalu.

Kesal sekali rasanya. I was that close to bring his shirt home. Now that I’m writing it down, sepertinya lain kali gue harus menyusun strategi guna mendistraksi dia agar dia lupa kemejanya.

  • Me: Cakep amat lu hari ini
  • Timur: Biasa aje....
  • Me: Udahlah, terima aja gue bilang lu cakep banget. Ok? *sambil puk-puk Timur*

Text

2 hari lalu, seorang teman nge-tweet sebuah link berita yg, sayangnya, tidak gue langsung baca. Kenapa? Karena gue tidak tertarik. Link berita itu memuat tentang jerih payah para admin fanbase selama kurang lebih sebulan terakhir terkait hajatan rakyat yg akan berlangsung 3 minggu lagi. “Ah, lagu lama” gue pikir. Itu kan sama aja kayak apa yg gue alami beberapa bulan lalu. Bedanya, keluhan para admin fanbase ini diangkat oleh media. Beberapa bulan lalu kan gue ditaiin setai-tainya tai kebo juga ngga diangkat oleh media.

Well anywaaaayyy…akhirnya semalam gue buka link berita yg di-tweet oleh teman gue itu. Ternyata dugaan gue bener, semuanya lagu lama. Semuanya persis seperti apa yg gue alami. Tidak ada apresiasi, tidak ada bayaran, tidak ada kontrak. Fans get nothing, the promoter gets everything.

Kita semua tentu tau bahwa bahkan keledai tidak jatuh ke dalam lubang yg sama untuk kedua kalinya. Kalaupun iya, yah mungkin keledai itu matanya siwer. Fanbase sudah sepatutnya lebih bijak, lebih berhati-hati, dan lebih pintar dalam bekerja sama dengan promotor. Untuk bekerja sama dengan promotor, dibutuhkan dua hal yg esensial: OTAK dan KONTRAK. Dua hal itu adalah senjata. Promotor tidak mau memberikan kompensasi apapun tidak membuat gue heran, kan jadi ketauan kualitas promotornya seperti apa dan pencitraaan promotor baru yg sekarang MENJAMUR emang JAMURAN. Namun, fanbase MAU TIDAK DIBERIKAN apa-apa itulah yang membuat gue bertanya-tanya. Kenapa tidak belajar?

Apa yg terjadi pada gue dan beberapa teman semasa bulan April itu adalah neraka. Lewat tulisan-tulisan macam ini kami pun berbagi dan mewanti-wanti agar fanbase lain berhati-hati. Jangan sampai dikadalin seperti kami, karena semuanya sama sekali tidak worth it. Dalam berita yg gue baca, ditulis bahwa para admin fanbase bekerja siang-malam hingga jatuh sakit. Mind you, dulu waktu pacaran gue sangat berkurang sampai-sampai pada suatu hari, Timur nge-BBM dengan, “Hai sayang, apa kabar?”. Puji Tuhan, pacar gue yg sering gue tinggal gara-gara gue ngurusin ticket coordination itu setia jadi tempat gue berkeluh kesah tentang ticket coordination. Emang promotor peduli? Boro-boro. Gue telat haid gara-gara stres ngurusin tiket juga mereka kagak peduli.

Apakah tidak cukup segala orkes sakit hati yg telah terjadi beberapa bulan lalu terhadap dua fanbase? Haruskah orkes sakit hati tersebut terulang lagi terhadap fanbase yg lebih banyak? Memang, “ngga kotor ya ngga belajar” tapi tolong yg kotor ngga usah sampe banyak pihak. Sudah cukup jatuh korban, jangan sampai bertambah. Mau sakit hati kayak apa lagi sih?

Kita, fans, sudah sepatutnya lebih pintar daripada keledai. Jangan jatuh ke dalam lubang yg sama untuk kedua kalinya. Jangan mau ditaiin promotor lagi. Kita juga manusia. Kita punya hati, jangan samakan dengan tendangan penalti.

Tolonglah, pake OTAK dan KONTRAK. Bego jangan dipelihara. Memelihara kebegoan aja udah bego. Begoception jadinya.

I thought I don’t care anymore. But turns out I can’t help but to wonder.

Text

Seharusnya gue nulis cerita di balik Tiger JK dan handuk twelfs, mengingat banyak orang yang bingung kok bisa-bisanya Tiger JK nge-twitpic handuk twelfs, tapi sayangnya ada hal lain yang lebih menarik daripada itu.

Gue tadi makan malam dengan Timur dan seperti biasa, kami ngobrol tentang banyak hal, hal-hal random, I should say dan topik malam ini adalah tentang kesederhaan dan penyamarataan yang diajarkan di sekolah swasta Katolik.

Gue dan Timur tumbuh dari background yang berbeda. Timur belasan tahun bersekolah di sekolah swasta Katolik yang mengajarkan persamaan nasib dan gue belasan tahun bersekolah di sekolah swasta Islam yang borjunya nauzubile. Adalah berkah ketika akhirnya gue masuk SMA negeri karena gue bisa melihat sisi lain dari kerasnya hidup di Jakarta. Dari TK-SMP, sekolah gue adalah showroom mobil dan showroom handphone. Ketika SMA, gue baru tau bahwa ada teman gue yg bayar SPP harus nyicil.

Gue bahkan masih ingat ketika menjalani outbound pada tahun terakhir gue bersekolah di SMP, seorang teman memakai kaos Mango (IYA, MANGO YG CLOTHING LINE DARI BARCELONA ITU DIPAKE BUAT OUTBOUND) lalu beberapa teman lainnya berkomentar, “Ih sayang banget lo pake kaos Mango buat kotor-kotoran…” dan dia berkomentar “Ah, Mango doang”.

“AH. MANGO DOANG.”

“MANGO DOANG.”

HALO.

MANGO DOANG???????

Gue shock banget waktu itu. I was only 15 years old at that time. Waktu itu gue belum punya side-job apapun. Tabungan gue paling cuma berapa ratus ribu. Mango itu mahal buat gue (sampai sekarang juga iye, kecuali lagi diskon WGWGWGWGWGW) dan seorang teman bisa ngomong kayak gitu.

Ah borju banget lah sekolah gue.

Itu baru murid-muridnya. Belum ibu-ibunya. Kalo liat dandanan ibu-ibunya, bisa bikin lo kerokan 7 hari 7 malam.

Itulah drama bersekolah di sekolah swasta Islam. Bisa lo bayangkan betapa kagetnya gue ketika akhirnya bersekolah di SMA negeri yang tidak semua siswanya bisa bayar uang pangkal, atau bahkan uang SPP, secara lunas.

“Oh, ada temen gue yang kesulitan finansial karena salah satu dari orang tuanya udah ngga ada.”

“Oh, ada temen gue yang sepatu sekolahnya itu-itu aja karena memang cuma itu yang dia punya.”

“Oh, ada temen gue yang diantar bapaknya bukan pake mobil, tapi pake motor, karena cuma itu yang dia punya.

Oh, ini. Oh, itu. Dan banyak “Oh” lainnya yang gue baru tau pas SMA.

Kalo di sekolahnya Timur, ngga ada tuh yg namanya borju-borjuan. Semua terlihat sama rata. Ngga ada gap. Biasa aja. Padahal emang ada yg the haves, ada the not haves.

Gue suka banget sama nilai-nilai yg ditanamkan di sekolah-sekolah swasta Katolik. Penanaman nilai-nilai juga dilakukan lewat program live-in (Labschool yg notabene-nya sekolah swasta tidak berbasis agama juga punya program ini sih). Program live-in ini berdurasi 4-5 hari (Timur juga lupa persisnya). Live-in tuh siswa ditempatkan di desa terpencil biar tau kayak apa sih hidup orang-orang yang termasuk the not haves.

Timur dulu ditempatkan di Gunung Kidul, dimana jarak dari rumah ke rumah mungkin cuma sekitar ratusan meter tapi untuk mencapai satu rumah dari rumah lain harus naik turun lembah dulu. Desa tempat Timur tinggal waktu itu lagi mengalami kesulitan air, jadi yang namanya mandi harus ngitung berapa bilas. Toiletnya pun ngga bisa dibilang toilet, karena bentuknya cuma tanah yg dilubangin dan ditutupin bambu. Ngga bisa tiap hari makan daging. Kalau mau makan daging, ya berburu trenggiling, kulitin, terus bakar (kata Timur gurihnya kayak ayam). Kalau makan paginya indomie rebus, makan malemnya bisa indomie rebus yang sama itu lagi (dalam keadaan mie-nya udah mekar). Satu hal yang gila banget dari penduduk desa ini adalah: sesusah apapun hidup mereka, mereka sama sekali ngga pelit untuk berbagi.

Bagi Timur, banyak hal yang dia dapatkan dari live-in. Nilai-nilai yang ngga mungkin dia dapatkan kalau dia cuma duduk-diem-manut di sekolah. Gue sih ngeliatnya pengalaman live-in itu turut membentuk karakter orang, yang mana in this case, gue liat membentuk karakter Timur. Timur itu jiwa sosialnya tinggi banget dan, sejujurnya, it is something that I am lack of. Salah satu hal yang gue pelajari dari Timur (selain selera humornya yang luar biasa, tentunya) adalah jiwa sosialnya.

Dan dia mengakui itu.

Gue ngga tau apakah sekarang sekolah swasta Islam udah punya program live-in atau belum, tapi kalau belum, man.. I’d love to strongly suggest that.

Text

Hello.

It’s been a long time since my last post, eh? Well… many things have happened. Some are interesting. Some are not. I’m working on my bachelor-thesis now and it’s related to ASEAN. Insya Allah. Wish me luck. I’m still working on the outline before proposing it to one of the lecturers in charge.

Finding the right topic seems to be the hardest part. Altho I have to admit that outlining chapter III is also hard. I know what I wanna write in that chapter but I can’t seem to find the proper word to name it.

Bachelor-thesis.

This will be the biggest achievement in my life. Gotta nail it. Gotta nail it like crazy.

Btw, Soulnation is coming soon. And yes, I am still involved. Gotta balance the serious part and fun part of my life, you know. That’s how we do it in FHUI. Fakultas Hedon. Fakultas Hura-hura. Best law school in the country. Fukk yeargh

Oh and I miss Thomas William Hiddleston.